20101018

Bahaya Maksiat

salam.( :

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mengatakan maksiat sangat berbahaya bagi hati dan fizikal manusia di dunia dan akhirat. Perbuatan maksiat akan mempunyai pengaruh buruk, seperti :
1. Terhalang memperoleh ilmu.
2. Terhalang mendapatkan rezeki.
3. Seorang yang melakukan maksiat akan menemukan perasaan terasing, antara si pelaku maksiat dengan Allah Azza Wa Jalla.
4. Keterasingan bukan hanya antara manusia dengan Allah, tetapi akibat perbuatan dosa dan maksiat itu, yang lebih berat juga akan mengasingkan pelakukanya dengan manusia lainnya terutama mereka yang melakukan kebajikan.
5. Orang yang suka melakukan maksiat dan dosa, hidupnya akan mengalami jalan buntu pada setiap urusannya.
6. Perbuatan maksiat dan dosa akan menimbulkan kegelapan hati.
7. Perbuatan maksiat dan dosa itu, juga akan melemahkan kekuatan hati.
8. Orang yang melakukan maksiat itu, pasti akan kehilangan wala’ dan keta’atan kepada Allah Azza Wa Jalla.
9. Orang-orang yang hobinya berbuat maksiat, menyebabkan pendek umur.
Begitulah nasihat Ibnu Qayyim al-Jauziyah, dalam kitabnya Al-Jawabu Kafi, agar manusia menjauhi dosa dan maksiat, karena perbuatan itu akan mencelakakan manusia di dunia dan akhirat. Wallahu’alam.

by Hazarul Hisham FB members of KALAM FITRAH

Mahram Bukan Muhrim

salam.( :

Mahram, bukan Muhrim
Mirip dengan mahram, kita juga sering mendengar istilah muhrim, yang asal katanya sama-sama dari kata haram. Namun makna muhrim adalah orang yang sedang melakukan ibadah ihram, di mana baginya diharamkan untuk memakai parfum, mencabut rambut, membunuh bintangan atau berburu dan perbuatan lain.
Sedangkan istilah muabbad bermakna abadi, berkesinambungan, terus-terusan, un-limted atau selamanya. Dan makna ghairu muabbad adalah lawannya, yaitu untuk sementara waktu, temporal, limited dan terbatas waktunya. Sewaktu-waktu bisa berubah keadaannya.
Maka bila kedua istilah itu kita padukan menjadi mahram muabbad, artinya adalah hubungan kemahraman yang bersifat abadi, seterusnya, tidak akan pernah berubah dan selama-lamanya. Sedangkan mahram ghairu muabbad adalah lawannya, yaitu hubungan kemahraman yang bersifat sementara, temporal, sewaktu-waktu bisa saja berubah dan tidak abadi.
Para ulama telah menyusun daftar hubungan kemahraman yang muabbad dan yang ghairu muabbad sebagai berikut:

1. Mahram Muabbad
Mereka yang termasuk mahram selama-lamanya bisa dibagi menjadi dua kategori. Pertama karena hubungan nasab (keturunan). Kedua, karena hubungan persusuan.
1.1.. Mahram karena Nasab
• Ibu kandung dan seterusnya ke atas seperti nenek, ibunya nenek.
• Anak wanita dan seteresnya ke bawah seperti anak perempuannya anak perempuan.
• Saudara kandung wanita.
• `Ammat/ Bibi (saudara wanita ayah).
• Khaalaat/ Bibi (saudara wanita ibu).
• Banatul Akh/ Anak wanita dari saudara laki-laki.
• Banatul Ukht/ anak wnaita dari saudara wanita.
1.2. Mahram karena Mushaharah
Sedangkan kemahraman yang bersifat sementara adalah kemahraman yang terjadi akibat adanya pernikahan. Atau sering juga disebut dengan mushaharah (besanan/ipar). Mereka adalah:
• Ibu dari isteri (mertua wanita).
• Anak wanita dari isteri (anak tiri).
• Isteri dari anak laki-laki (menantu peremuan).
• Isteri dari ayah (ibu tiri).
1.3. Mahram karena Penyusuan
• Ibu yang menyusui.
• Ibu dari wanita yang menyusui (nenek).
• Ibu dari suami yang isterinya menyusuinya (nenek juga).
• Anak wanita dari ibu yang menyusui (saudara wanita sesusuan).
• Saudara wanita dari suami wanita yang menyusui.
• Saudara wanita dari ibu yang menyusui.
Ini berlaku untuk selama-lamanya meskipun terjadi kematian, perceraian ataupun pindah agama.

2. Mahram Ghoiru Muabbad
Adapun yang dimaksud dengan mahram ghoiru mu’abbadah adalah wanita-wanita untuk sementara waktu saja, namun bila terjadi sesuatu seperti perceraian, kematian, habisnya masa iddah ataupun pindah agama, maka wanita itu boleh dinikahi. Mereka adalah:
2.1. Wanita yang masih menjadi isteri orang lain tidak boleh dinikahi. Kecuali setelah cerai atau meninggal suaminya dan telah selesai masa iddahnya.
2.2. Saudara ipar, atau saudara wanita dari isteri. Tidak boleh dinikahi sekaligus juga tidak boleh berkhalwat atau melihat sebagian auratnya. Kalau isteri sudah dicerai maka mereka halal untuk dinikahi. Hal yang sama juga berlaku bagi bibi dari isteri.
2.3. Isteri yang telah ditalak tiga, haram dinikahi kecuali isteri itu telah menikah lagi dengan laki-laki lain, kemudian dicerai dan telah habis masa iddahnya.
2.4. Menikah dalam kesempatan dengan melakukan ibadah ihram. Bukan hanya dilarang menikah, tetapi juga haram menikahkan orang lain.
2.5. Menikahi wanita budak padahal mampu menikahi wanita merdeka. Kecuali bila tidak mampu membayar mahar wanita merdeka karena miskin.
2.6. Menikahi wanita pezina, kecuali yang telah bertaubat taubatan nashuha.
2.7. Menikahi wanita non muslim yang bukan kitabiyah atau wanita musyrikah, kecuali setelah masuk Islam atau pindah memeluk agama yahudi atau nasrani.

Konsekuensi Hukum Sesama Mahram
Hubungan kemahraman yang ada dalam daftar di atas, baik yang muabbad maupun yang ghairu muabbad, sama menghasilkan konsekuensi hukum lanjutan, selain tidak boleh terjadinya pernikahan. Di antaranya adalah:
1. Kebolehan berkhalwat (berduaan) antara sesama mahram
2. Kebolehan bepergiannya seorang wanita dalam safar lebih dari 3 hari asal ditemani mahramnya.
3. Kebolehan melihat sebagian dari aurat wanita mahram, seperti kepala, rambut, tangan dan kaki.

Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Alam Akhirat

salam.
sdikit info utk dsmpaikn.( :

Oleh Muhamad Rozi Hassan

NERAKA berasal perkataan Ibrani bermaksud unggun api menjadi tempat seksaan Allah yang dikhususkan untuk golongan ingkar kepada perintah-Nya ketika di dunia.

Di neraka, orang kafir termasuk golongan yang ingkar perintah Allah diseksa sebagai pembalasan seperti dijanjikan Allah SWT dalam firman bermaksud:

“Wahai orang beriman jagalah dirimu, keluargamu daripada api neraka. Bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Sedangkan penjaganya adalah malaikat yang gagah lagi bengis. Mereka tidak menderhaka Allah, mereka melakukan apa saja yang diperintahkan kepadanya.” (Surah At-Tahrim: 6)

Api neraka berjuta kali panasnya berbanding api di dunia. Jika api itu jatuh ke bumi, walaupun sebesar hama, hancur lebur dunia ini. Itulah kepanasan api neraka yang tiada tolok bandingnya.

Tujuh nama neraka menanti golongan yang mendustai dan mengingkari perintah Allah SWT. Pembahagian tingkatan neraka menurut Syeikh Dahak Al-Ahbar yang kemudian dipersetujui ahli tafsir dan Usuluddin, antaranya Syeikh Qurthubi dan Imam Al-Ghazali ialah:

* Neraka Jahanam. Tingkat teratas. Neraka ini bermula dari tingkat paling atas sehingga ke terakhir (bawah). Ia seburuk-buruknya dan penghuni kekal di dalamnya.

Firman Allah SWT bermaksud: “Katakan kepada orang kafir; nanti kamu akan dikalahkan oleh orang Islam dan dihimpunkan kamu dalam Neraka Jahanam. Di sanalah tempat seburuk-buruknya.” (Surah Al-Imran:12)

Begitu juga dalam surah An Nisa, ayat 169, Allah SWT berfirman: “Orang kafir dan orang aniaya, mereka tidak diampunkan Allah dan tidak pula ditunjukkan jalan melainkan ke Neraka Jahanam. Mereka kekal dalam neraka itu selamanya. Yang demikian itu mudah sekali bagi Allah”.

* Luza adalah tingkat kedua yang dihuni pendusta agama Allah dan berpaling daripada ajarannya.

Firman Allah bermaksud: “Sebab itu Kami beri khabar menakut kamu dengan Neraka Luza (neraka yang menyala-nyala). Tiada yang masuk ke dalamnya melainkan orang celaka, iaitu orang mendustakan agama dan berpaling daripadanya.” (surah Al-Lail: 14-16)

* Hathamah ialah neraka tingkat ketiga tempat mereka yang lalai dalam mengerjakan perintah Allah kerana dipengaruhi harta dunia.
* Sair ialah tingkat ke empat neraka dihuni mereka yang makan harta anak yatim. Mata dan telinga mereka menjadi buta dan pekak manakala kulitnya tebal seperti Jabal Uhud.
* Saqru ialah neraka tingkat kelima, antara penghuninya ialah orang tidak bersolat, percaya kepada perkara bidaah, tidak memberi makan orang miskin dan tidak percaya kepada Hari Pembalasan.
* Jahim neraka tingkat keenam. Penghuninya melakukan dosa besar seperti berzina, membunuh, mendustai agama Allah dan minum arak.
* Hawiyah ialah neraka paling bawah menempatkan orang memusuhi Nabi. Walaupun neraka ini paling bawah, apinya sangat panas. Firman Allah SWT bermaksud: “Siapa yang ringan timbangan, dia dilemparkan ke Neraka Hawiyah. Tahukah kamu apakah Neraka Hawiyah? Ia adalah api yang sangat panas.” (surah Al-Qariah: 8-11)

Tujuh tingkat neraka sedia hukuman setimpal kesalahan
Posted by: nurjeehan in Alam Akhirat, Tazkirah
by Ahmad Abdullah FB members of Kata Tidak Kepada Pergaulan Bebas